Kamis, 08 Desember 2011

PEMURNIAN ZAT


PEMURNIAN

Pemurnian merupakan suatu proses untuk meningkatkan kualitas suatu bahan agar mempunyai nilai jual yang lebih tinggi. Beberapa metode pemurnian yang dikenal adalah secara kimia ataupun fisika. Pemurnian secara fisika memerlukan peralatan penunjang yang cukup spesifik, akan tetapi minyak yang dihasilkan lebih baik, karena warnanya lebih jernih dan komponen utamanya menjadi lebih tinggi. Untuk metode pemurnian kimiawi bisa dilakukan dengan menggunakan peralatan yang sederhana dan hanya memerlukan pencampuran dengan adsorben atau senyawa pengomplek tertentu.

I. TEKNIK PEMURNIAN
A. KRISTALISASI DAN REKRISTALISASI
Kristalisasi adalah suatu teknik untuk mendapatkan bahan murni suatu senyawa. Dalam sintesis kimia banyak senyawa-senyawa kimia yang dapat dikristalkan. Untuk mengkristalkan senyawa-senyawa tersebut, biasanya dilakukan terlebih dahulu penjenuhan larutan kemudian diikuti dengan penguapan pelarut serta perlahan-lahan sampai terbentuk kristal. Pengkristalan dapat pula dilakukan dengan mendinginkan larutan jenuh pada temperatur yang sangat rendah di dlam lemari es atau freezer.
Rekristalisasi adalah suatu teknik pemurnian bahan kristalin. Seringkali senyawa yang diperoleh dari hasil suatu sintesis kimia memiliki kemurnian yang tidak terlalu tinggi. Untuk memurnikan senyawa tersebut perlu dilakukan rekristalisasi.Untuk merekristalisasi suatu senyawa kita harus memilih pelarut yang cocok dengan senyawa tersebut. Setelah senyawa tersebut dilarutkan ke dalam pelarut yang sesuai kemudian dipanaskan (direfluks) sampai semua senyawa tersebut larut sempurna. Apabila pada temperatur kamar, senyawa tersebut sudah larut secara sempurna di dalam pelarut, maka tidak perlu lagi dilakukan pemanasan. Pemanasan hanya dilakukan apabila senyawa tersebut belum atau tidak larut sempurna pada keadaan suhu kamar. Setelah senyawa/solut tersebut larut sempurna di dalam pelarut baik dengan pemanasan maupun tanpa pemanasan, maka kemudian larutan tersebut disaring dalam keadaan panas. Kemudian larutan hasil penyaringan tersebut didinginkan perlahan-lahan sampai terbentuk kristal. Salah satu faktor penentu keberhasilan proses kristalisasi dan rekristalisasi adalah pemilihan zat pelarut.
Pelarut yang digunakan dalam proses kristalisasi dan rekristalisasi sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1)      Memiliki gradient temperatur yang besar dalam sifat kelarutannya.
2)      Titik didih pelarut harus di bawah titik lebur senyawa yang akan dikristalkan.
3)      Titik didih pelarut yang rendah sangat menguntungkan pada saat pengeringan.
4)      Bersifat inert (tidak bereaksi) terhadap senyawa yang akan dikristalkanatau direkristalisasi.
Apabila zat atau senyawa yang akan kita kritalisasi atau rekristalisasi tidak dikenal secara pasti, maka kita setidak-tidaknya kita harus mengenal komponen pentingdari senyawa tersebut. Jika senyawa tersebut adalah senyawa organik, maka yang kita ketahui sebaiknya adalah gugus-gugus fungsional senyawa tersebut. Apakah gugus-gugus tersebut bersifat hidrofobik atau hidrofilik. Dengan kata lain kita minimal harus mengetahui polaritas senyawa yang akan kita kristalkan atau rekristalisasi.  Setelah polaritas senyawa tersebut kita ketahui kemudian dipilih pelarut yang sesuai denganpolaritas senyawa tersebut. Tabel berikut ini memuat beberapa pelarut yang biasa digunakan dalam proses kristalisasi maupun rekristalisasi.
Tabel Polaritas Beberapa Pelarut
No
Polaritas
Pelarut/ solvent
1
Polaritas rendah
Petrolium eter, Toluene
2
Polaritas sedang
Dietil eter, aseton
3
Polaritas tinggi
Etanol, air

Kemudahan suatu endapan dapat disaring dan dicuci tergantung sebagian besar pada struktur morfologi endapan, yaitu bentuk dan ukuran-ukuran kristalnya. Semakin besar kristal-kristal yang terbentuk selama berlangsungnya pengendapan, makin mudah mereka dapat disaring dan mungkin sekali (meski tak harus) makin cepat kristal-kristal itu akan turun keluar dari larutan, yang lagi-lagi akan membantu penyaringan. Bentuk kristal juga penting. Struktur yang sederhana seperti kubus, oktahedron, atau jarum-jarum, sangat menguntungkan, karena mudah dicuci setelah disaring. Kristal dengan struktur yang lebih kompleks, yang mengandung lekuk-lekuk dan lubang-lubang, akan menahan cairan induk (mother liquid), bahkan setelah dicuci dengan seksama. Dengan endapan yang terdiri dari kristal-kristal demikian, pemisahan kuantitatif lebih kecil kemungkinannya bisa tercapai.
Ukuran kristal yang terbentuk selama pengendapan, tergantung pada dua faktor penting yaitu laju pembentukan inti (nukleasi) dan laju pertumbuhan kristal. Jika laju pembentukan inti tinggi, banyak sekali kristal akan terbentuk, tetapi tak satupun dari ini akan tumbuh menjadi terlalu besar, jadi terbentuk endapan yang terdiri dari partikel-partikel kecil. Laju pembentukan inti tergantung pada derajat lewat jenuh dari larutan. Makin tinggi derajat lewat jenuh, makin besarlah kemungkinan untuk membentuk inti baru, jadi makin besarlah laju pembentukan inti. Laju pertumbuhan kristal merupakan faktor lain yang mempengaruhi ukuran kristal yang terbentuk selama pengendapan berlangsung. Jika laju ini tinggi, kristal-kristal yang besar akan terbentuk yang dipengaruhi oleh derajat lewat jenuh.
Garam dapur atau natrium klorida atau NaCl. Zat padat berwarna putih yang dapat diperoleh dengan menguapkan dan memurnikan air laut. Juga dapat dengan netralisasi HCl dengan NaOH berair. NaCl nyaris tidak dapat larut dalam alkohol, tetapi larut dalam air sambil menyedot panas, perubahan kelarutannya sangat kecil dengan suhu. Garam normal; suatu garam yang tak mengandung hidrogen atau gugus hidroksida yang dapat digusur. Larutan-larutan berair dari garam normal tidak selalu netral terhadap indikator semisal lakmus. Garam rangkap; garam yang terbentuk lewat kristalisasi dari larutan campuran sejumlah ekivalen dua atau lebih garam tertentu. Misalnya: FeSO4(NH4)2SO4.6H2O dan K2SO4Al2(SO4)3.24H2O. Dalam larutan, garam ini merupakan campuran rupa-rupa ion sederhana yang akan mengion jika dilarutkan lagi. Jadi, jelas berbeda dengan garam kompleks yang menghasilkan ion-ion kompleks dalam larutan.

Prosedur Kristalisasi dan Rekristalisasi

·         Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah erlenmeyer, gelas kimia, pengaduk, pipet, pembakar Bunsen yang dilengkapi dengan kasa asbes, corong kaca, kertas saring, penjepit, corong Buchner, kaca arloji, tabung kapiler, alat penentuan titik leleh, tabung reaksi.
·         Bahan
Bahan-bahan yang diperlukan pada percobaan ini adalah asam benzoat, n-heksana, kloroform, toluena, methanol, karbon/norit, sikloheksana, es, aquades.
·         Prosedur Kerja
1. Kristalisasi Asam Benzoat
a. Memilih pelarut yang cocok, lalu menimbang 2 gram asam Benzoat kotor.
b. Memasukannya ke dalam gelas kimia 100 ml, lalu memasukkan sedikit demi sedikit pelarut sambil mengaduknya dalam keadaan panas sampai asam benzoat larut.
c. Menambahkan sedikit berlebih beberapa ml pelarut panas setelah semua senyawa larut.
d. Mendidihkan campuran diatas kasa asbes dengan menggunakkan pembakar Bunsen (api jangan terlalu besar).
e. Menambahkan sedikit demi sedikit 0,5 gram karbon atau norit ke dalam campuran panas, dan mengaduknya dengan kaca pengaduk untuk menghilangkan warna.
f. Mendidihkan supaya penyerapan warna lebih sempurna.
g. Menuangkan larutan kedalam corong kaca yang dilengkapi dengan kertas saring, dan menampung filtratnya dalam labu Erlenmeyer.
h. Mendiamkan dan mendinginkan dengan cara Erlenmeyer disiram dibawah curahan air kran atau merendamnya dalam air es.
i. Menjenuhkan larutan bila belum terbentuk kristal yang berarti larutannya kurang jenuh, dengan cara menguapkan sebagian pelarutnya.
j. Menyaring kristal dengan menggunakan corong Buchner, jika semua kristal sudah terbentuk dan terpisah.
k. Mencuci kristal dalam corong Buchner dengan sedikit pelarut dingin.
l. Menebarkan kristal di atas kertas saring lebar.
m. Menimbang kristal kering dan menentukan titik lelehnya.
2. Penentuan Titik Leleh
a. Menempatkan sejumlah kristal dalam kaca arloji
b. Menggerus kristal sampai sehalus mungkin.
c. Mengambil tabung kapiler yang salah satu ujungnya tertutup.
d. Menekan-nekan bagian ujung yang terbuka ke dalam serbuk kristal sampai serbuk kristal masuk ke dalam tabung kapiler.
e. Membalikkan tabung kapiler dan ketuk-ketuk sampai serbuk kristal turun ke dasar kapiler.
f. Mengulangi pengambilan dengan cara yang sama sampai serbuk yang ada sekitar 1 cm.
g. Memasang kapiler di tempat alat melting-block.
h. Memanaskan dengan api kecil agar naiknya suhu berjalan secara perlahan.
i. Memperhatikan dan mencatat suhu saat dimana kristal mulai ada yang meleleh sampai persis semuanya meleleh.
3. Rekristalisasi Asam Benzoat dalam Sistem Dua Pelarut
a. Memasukkan 50 gram asam benzoat ke dalam tabung reaksi.
b. Menambahkan toluen panas sedikit demi sedikit dengan jumlah volume seminimal mungkin.
c. Menambahkan sikloheksana ke dalam larutan asam benzoat-toluena panas, sampai larutan panas tersebut mulai keruh dan mulai terbentuk kristal.
d. Mendinginkan larutan tersebut perlahan sampai suhu kamar.
e. Mendinginkan larutan tersebut dalam es sampai terbentuk kristal.
f. Menentukkan titik lelehnya dan membandingkan hasilnya dengan titik leleh kristal hasil rekristalisasi dengan pelarut tunggal.

B. SUBLIMASI
Pada umumnya perubahan tingkat wujud berlangsung menurut pola padat – cair – gas atau kebalikannya. Ada beberapa zat yang dapat berubah langsung dari keadaan uap ke keadaan padat yang disebut menyublim. Sifat demikian dimiliki oleh unsur yodium, kamfer, naftalen, belerang. Zat padat pada umumnya mempunyai bentuk kristal tertentu: Kubus, heksagonal, rombik, monoklin dan sebagainya. Unsur belerang dalam suhu biasa berwarna kuning dengan bentuk kristal rombik. Jika belerang rombik dipanaskan sampai 96° bentuk kristalnya berubah menjadi monoklin. Jika belerang cair didinginkan tiba-tiba pada 119° terjadi pula bentuk kristal monoklin (seperti bentuk jarum).
Pada pendinginan lebih lanjut sampai 96° terjadi bentuk rombik. Suhu 96° adalah suhu peralihan. Peristiwa ini disebut alotropi ialah satu macam zat dalam keadaan berlainan mempunyai sifat fisik yang berbeda.
Sublimasi merupakan proses pemurnian suatu zat dengan jalan memanaskan campuran, sehingga dihasilkan sublimat (sublimat merupakan kumpulan materi pada tempat tertentu yang terbentuk pada pemanasan zat yang dapat berubah langsung dari fasa padat ke fasa gas dan kembali ke fasa padat.). Sublimasi adalah peristiwa penguapan secara langsung padatan kristalin kedalamfasa uap. Contoh klasik sublimasi adalah penguapan kamfer (kapur barus).Sublimasi dapat digunakan sebagai metode pemurnian padatan kristalin. Beberapa senyawa kimia dapat menyublim pada temperatur dan tekanan kamar, namun banyak yang beru dapat menyublim apabila tekanan diturunkan. Untuk mendapatkan bahan murni, fasa uap bahan tersublim didinginkan secara perlahan-lahan sehingga terbentuk kristal.

Prosedur Kerja Sublimasi
Peralatan dan bahan yang dipakai untuk proses sublimasi yodium:
Prosedur kerja:
1.      Ambil 1 spatula yodium, letakkan dalam cawan porselin, tutuplah cawan itu dengan gelas arloji, beri air di atas gelas arloji. Panaskan dengan api kecil pada pembakar bunsen.
2.      Sebagian dari kristal yodium ini masukkan dalam tabung reaksi, kemudian tuangi air suling.
3.      Sebagian yang lain masukkan juga pada tabung reaksi dan tuangi alkohol.
4.      Pada dinding luar gelas arloji terdapat hablur-hablur kristal Iodium.
Menangani produk sublimasi
Hasil sublimasi yang telah diperoleh dikumpulkan menggunakan sendok untuk dibandingkan keuntungan dengan kristal aslinya. Kemudian dibandingkan, apakah massa Iodium yang tersublimasi massanya sama dengan produk sublimasi yang dihasilkan. Kemudian dapat dianalisis. Apakah  semua zat yang menguap tersebut, uapnya dapat menyublim keseluruhan menjadi kristal-kristal kembali.
Operasi Evaporasi
Operasi evaporasi atau penguapan pada dasarnya merupakan operasi pendidihan khusus, dimana terjadi peristiwa perpindahan panas dalam cairan mendidih. Tujuan operasi evaporasi adalah untuk memperoleh larutan pekat dari larutan encer dengan jalan pendidihan dan penguapan. Yang dimaksud dengan larutan adalah terdiri dari zat terlarut yang tidak mudah menguap dan pelarut yang mudah menguap. Pelarutnya dalam kebanyakan hal adalah air, tetapi dapat juga cairan lain.

Memeriksa kondisi evaporator sebelum dioperasikan :
a.       Evaporator sebelum dioperasikan harus diperiksa bagian-bagiannya agar kinerjanya menjadi optimum.
b.      Kondensor diperiksa fungsi kerjanya dengan cara membersihkan ruang kondensasi.
c.       Injeksi uap juga diperiksa apakah pengukur tekanan berfungsi dengan baik atau tidak.
d.      Perangkap uap juga diperiksa jika terjadi kebocoran-keborocan
e.       Perangkap tetap dibersihkan dari debu dan kotoran.

C. DESTILASI
Destilasi adalah pemurnian cairan dengan jalan mendidihkannya, mendinginkan uap yang terbentuk dan mengumpulkan cairan yang diperoleh dari pendingin uap. Destilasi juga merupakan salah satu teknik memurnikan senyawa kimia.Senyawa yang akan dimurnikan harus berupa cairan. Destilasi bekerja berdasarkanperbedaan titik didih senyawa-senyawa di dalam larutan. Senyawa-senyawa yangdimurnikan akan terpisah berdasarkan perbedaan titik didihnya. Senyawa-senyawadengan titik didih rendah akan terpisah terlebih dahulu diikuti dengan senyawa-senyawa yang memiliki titik didih yang lebih tinggi.
Pembagian Destilasi
1.    Distilasi berdasarkan prosesnya terbagi menjadi dua, yaitu :
·           Distilasi kontinyu
·           Distilasi batch
2.    Berdasarkan basis tekanan operasinya terbagi menjadi tiga, yaitu :
·           Distilasi atmosferis
·           Distilasi vakum
·           Distilasi tekanan
3.    Berdasarkan komponen penyusunnya terbagi menjadi dua, yaitu :
·               Destilasi system biner
·               Destilasi system multi komponen
4.    Berdasarkan system operasinya terbagi menjadi dua, yaitu :
·           Single-stage Distillation
·           Multi stage Distillation
Selain pembagian macam destilasi, dalam referensi lain menyebutkan macam – macam destilasi, yaitu :
1.         Destilasi sederhana
2.         Destilasi bertingkat ( fraksional )
3.         Destilasi azeotrop
4.         Destilasi vakum
5.         Refluks / destruksi
6.         Destilasi kering

Destilasi sederhana atau destilasi biasa adalah teknik pemisahan kimia untuk memisahkan dua atau lebih komponen yang memiliki perbedaan titik didih yang jauh. Suatu campuran dapat dipisahkan dengan destilasi biasa ini untuk memperoleh senyawa murninya. Senyawa – senyawa yang terdapat dalam campuran akan menguap pada saat mencapai titik didih masing – masing.
Destilasi bertingkat merupakan proses distilasi berulang-ulang, yang terjadi pada kolom fraksionasi. Kolom fraksionasi terdiri atas beberapa plat yang lebih tinggi lebih banyak mengandung cairan yang mudah menguap, sedangkan cairan yang tidak mudah menguap lebih banyak dalam kondensat. Contoh destilasi bertingkat adalah pemisahan campuran alkohol-air, pemurnian minyak bumi; yaitu memisahkan gas, bensin, minyak tanah dari minyak mentah.
Gambar susunan alat destilasi sederhana.
Gambar di atas merupakan alat destilasi atau yang disebut destilator. Yang terdiri dari thermometer, labu didih, steel head, pemanas, kondensor, dan labu penampung destilat. Thermometer Biasanya digunakan untuk mengukur suhu uap zat cair yang didestilasi selama proses destilasi berlangsung. Seringnya thermometer yang digunakan harus memenuhi syarat:
a. Berskala suhu tinggi yang diatas titik didih zat cair yang akan didestilasi.
b.   Ditempatkan pada labu destilasi atau steel head dengan ujung atas reservoir HE sejajar dengan pipa penyalur uap ke kondensor. Labu didih berfungsi sebagai tempat suatu campuran zat cair yang akan didestilasi .      
Steel head berfungsi sebagai penyalur uap atau gas yang akan masuk ke alat pendingin ( kondensor ) dan biasanya labu destilasi dengan leher yang berfungsi sebagai steel head. Kondensor memiliki 2 celah, yaitu celah masuk dan celah keluar yang berfungsi untuk aliran uap hasil reaksi dan untuk aliran air keran. Pendingin yang digunakan biasanya adalah air yang dialirkan dari dasar pipa, tujuannya adalah agar bagian dari dalam pipa lebih lama mengalami kontak dengan air sehingga pendinginan lebih sempurna dan hasil yang diperoleh lebih sempurna. Penampung destilat bisa berupa erlenmeyer, labu, ataupun tabung reaksi tergantung pemakaiannya. Pemanasnya juga dapat menggunakan penangas, ataupun mantel listrik yang biasanya sudah terpasang pada destilator.
Pemisahan senyawa dengan destilasi bergantung pada perbedaan tekanan uap senyawa dalam campuran. Tekanan uap campuran diukur sebagai kecenderungan molekul dalam permukaan cairan untuk berubah menjadi uap. Jika suhu dinaikkan, tekanan uap cairan akan naik sampai tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap atmosfer. Pada keadaan itu cairan akan mendidih. Suhu pada saat tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap atmosfer disebut titik didih. Cairan yang mempunyai tekanan uap yang lebih tinggi pada suhu kamar akan mempnyai titik didih lebih rendah daripada cairan yang tekanan uapnya rendah pada suhu kamar.
Jika campuran berair didihkan, komposisi uap  di atas cairan tidak sama dengan komposisi pada cairan. Uap akan kaya dengan senyawa yang lebih volatile atau komponen dengan titik didih lebih rendah. Jika uap di atas cairan terkumpul dan dinginkan, uap akan terembunkan dan komposisinya sama dengan komposisi senyawa yang terdapat pada uap yaitu dengan senyawa yang mempunyai titik didih lebih rendah. Jika suhu relative tetap, maka destilat yang terkumpul akan mengandung senyawa murni dari salah satu komponen dalam campuran.

Prosedur Kerja Destilasi:
·      Alat dan bahan
Alat destilasi, termometer, corong, labu destilasi, air yang diberi pewarna.
·      Prosedur Kerja:
1.      Menyusun alat destilasi
2.      Mengambil 40 ml larutan berwarna (air yang mengandung pewarna) dan dengan menggunakan corong masukkan ke dalam labu destilasi.
3.      Masukkan 3 butir batu didih, lalu pasang termometer pada mulut labu. Volume cairan dalam labu destilasi hendaknya kurang dari separuh volume labu agar pada saat mendidih tidak ada cairan yang memercik ke pendingin.
4.      Alirkan air kependingin dari bagian bawah ke bagian atas, kemudian panaskan labu destilasi.
5.      Tampung cairan yang  keluar (destilat) dari pendingin dalam erlenmeyer.
6.      Hentikan pemanasan bila cairan dalam labu destilasi tinggal sedikit, agar destilat tidak terkontaminasi dan agar labu mudah dibersihkan.

II. UJI KEMURNIAN
Untuk mengetahui kemurnian suatu senyawa hasil pemurnian seperti yang telah dijelaskan di atas, maka digunakan beberapa teknik uji kemurnian bahan yangrelatif sederhana seperti uji titik leleh, uji indeks bias, uji berat jenis, uji titik didih, danuji kekentalan (viskositas).
1.      Uji titik leleh
Uji titik leleh merupakan salah satu teknik uji kemurnian bahan padat yang cukupakurat terutama jika titik leleh bahan telah diketahui sebelumnya. Titik leleh bahanmurni dapat dilihat pada table spesifikasi bahan yang tersedia di perpustakaanlaboratorium. Akan tetapi untuk bahan-bahan yang sama sekali baru, teknik ini jugadapat digunakan. Bahan-bahan murni umumnya memiliki interval titik leleh yangsempit.
2.      Uji indeks bias
Indeks bias suatu cairan dapat digunakan sebagai faktor penentu kemurnian bahan.Namun demikian seperti juga metode titik leleh, metode uji indeks bias ini lebihtepat untuk digunakan sebagai tes uji kemurnian bahan yang indeks bias bahanmurninya telah diketahui dengan pasti terelbih dahulu. Untuk bahan-bahan yangsama sekali baru, maka metode uji indeks bias ini juga dapat diterapkan denganhati-hati.
3.      Uji berat jenis
Uji berat jenis merupakan salah satu teknik uji kemurnian yang cukup akurat.Archimedes menguji kemurnian emas mahkota raja berdasarkan prinsip uji beratjenis ini. Setiap zat murni mempunyai berat jenis yang spesifik yang dapatdigunakan sebagai dasar pengujian bahan.
4.      Uji titik didih
Uji titik didih juga dapat digunakan untuk mengetahui kemurnian suatu bahan. Ujiini dapat diterapkan pada senyawa berujud cairan yang bahan cair murninya telahdiketahui titik didihnya secara pasti. Uji titik didih senyawa murni dapat dilihatpada tabel di buku katalog di perpustakaan laboratorium. Untuk bahan-bahan lainyang titik didik murninya belum diketahui secara pasti, uji titik didih ini dapatdilakukan dengan hati-hati.
5.      Uji kekentalan
Uji kekentalan dapat dilakukan untuk mengetahui kemurnia suatu bahan. Bahan-bahan cair yang dalam keadaan murni memiliki kekentalan yang khas dan berbedadari senyawa yang lain. Uji ini dapat dilakukan untuk senyawa/ bahan cair yangkekentalannya telah diketahui secara pasti. Data kekentalan berbagai bahan murnidapat dilihat pada buku katalog bahan di perpustakaan laboratorium. Untuk bahan-bahan lain yang kekentalannya belum diketahui secara pasti maka uji ini dapat dilakukan secara hati-hati.



Kesimpulan
Pemurnian merupakan suatu proses untuk meningkatkan kualitas suatu bahan agar mempunyai nilai jual yang lebih tinggi. Beberapa metode pemurnian yang dikenal adalah secara kimia ataupun fisika.  
Teknik pemurnian antara lain adalah dengan kristalisasi, sublimasi, dan destilasi. Kristalisasi adalah suatu teknik untuk mendapatkan bahan murni suatu senyawa. Salah satu faktor penentu keberhasilan proses kristalisasi dan rekristalisasi adalah pemilihan zat pelarut.
Sublimasi merupakan proses pemurnian suatu zat dengan jalan memanaskan campuran, sehingga dihasilkan sublimat (sublimat merupakan kumpulan materi pada tempat tertentu yang terbentuk pada pemanasan zat yang dapat berubah langsung dari fasa padat ke fasa gas dan kembali ke fasa padat.).
Destilasi adalah pemurnian cairan dengan jalan mendidihkannya, mendinginkan uap yang terbentuk dan mengumpulkan cairan yang diperoleh dari pendingin uap. Destilasi juga merupakan salah satu teknik memurnikan senyawa kimia  

Daftar Pustaka
Anonim. Pemisahan dan pemurnian zat cair serta zat padat. (http://aryhrsft08.com) diakses tanggal 15 November 2011.
Anonim. Pemisahan dan pemurnian zat secara fisik. (http://ochakimia.blogspot.com) diakses tanggal 15 November 2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar